KASUR PASIR, KEARIFAN LOKAL YANG TAK TERKIKIS ZAMAN


oleh : M. Hairil Anwar
                Masyarakat Madura selama ini kita kenal dengan stereotype masyarakat yang keras. Ini tercermin dari kepopuleran tradisi madura yaitu “carok” dan olah raga kerapan sapi. Kedua hal ini menjadi cerminan masyarakat Madura walau tidak sepenuhnyua benar. Temperamen yang kasar, teguh dan memiliki etos kerja yang tinggi adalah ciri umum manusia Madura. Secara Administratif, Pulau Madura dibagi menjadi empat kabupaten yaitu Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep.
                Masyarakat Madura sendiri memiliki corak kebudayaan yang beragam. Pada tiap kabupaten, masyarakat miliki ciri sosial-budaya yang khusus sehingga kita dapat dengan mudah membedakan asal muasal seseorang atau kelompok sosial tertentu. Seperti halnya yang terdapat pada masyarakat Dusun Lebbak Timur Kecamatan Leggung Kabupaten Sumenep, masyarakatnya dikenal dengan istilah “Manusia Pasir”.
koleksi pribadi 01.
Koleksi Pribadi 01.
                Keberadaan Manusia Pasir menunjukkan fenomena sosial-budaya yang khusus. Kebiasaan masyarakat Lebbak Timur yang lebih memilih untuk tidur di pasir pantai menjadikan masyarakat disini dikenal dengan manusia pasir. Hampir pada setiap rumah warga, selalu disediakan satu kamar khusus yang didalamnya berisi pasir laut yang putih sebagai alas tidur. Perkembangan zaman, modernisasi, dan perkembangan masyarakat juga di alami oleh masyarakat di Lebbak Timur,namun hal ini tidak mampu menggeser budaya masyarakat yang memiliki tradisi tidur di pasir.
                Mitos tentang kesehatan rupanya menjadi penopang kelestarian budaya ini. Masyarakat meyakini bahwasanya tidur di pasir mampu meningkatkan stamina mereka dan baik untuk kesehatan. Bagi masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan ini, pilihan untuk tidur di pasir adalah untuk mengurangi penat dan pegal-pegal di badan setelah mereka melaut. Selain itu masyarakat meyakini pula bahwa tidur dengan beralaskan pasir mampu menghindarkan masyarakat dari pengaruh sihir/ santet.
                Namun dibalik ini semua, ternyata penulis bisa mengetahui bahwa ada kemampuan local genius yang terpendam dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat “Manusia Pasir”. Pola kehidupan masyarakat yang cenderung komunal dan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial yang luhur pada masyarakat mampu bertahan di era globalisasi. Perkembangan teknologi dan sistem komunikasi yang begitu pesat ternyata tidak mampu mengeser nilai-nilai sosial yang luhur pada masyarakat Lebbak Timur. Keberadaan “Kasur Pasir” inilah yang menjadi filter bagi perubahan sosial-budaya masyarakat.
                Kecenderungan masyarakat untuk tetap menyediakan pasir pada salah satu kamar menjadikan masyarakat mampu mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal. Tanpa disadari, kebiasaan untuk berkumpul di kamar yang menyediakan “Kasur Pasir” , merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Melalui tradisi inilah masyarakat mampu mempertahankan nilai-nilai keharmonisan keluarga. Dengan tradisi inilah warga bisa mempertahankan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
koleksi pribadi 02
Koleksi Pribadi 02.

                Selain itu, kebiasaan masyarakat seperti ini mampu menarik perhatian masyarakat luas untuk belajar tentang nilai-nilai luhur yang masih tetap terjaga. Zaman boleh berubah, namun nilai-nilai luhur tidak boleh bergeser. Modernisasi bisa terjadi, namun nilai-nilai tradisi tetap dipertahankan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tambang Batu Putih Batu Marmar : Cara Masyarakat Batu Marmar Menjawab Tantangan Alam

2 Hari Bersama Ruben Onsu dan Crew Survivor Trans TV

Pulau Sepudi Dan Pesonanya Yang Disimpannya (Part 1)